Warga Ponorogo Tersihir Doktrin Kiamat Jemaah Thoriqoh Muso

0
W CumaBerita.com, Jakarta. Salah seorang warga di Dusun Krajan, Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, menyayangkan menantunya yang ikut dalam rombongan tersihie doktrin kiamat sudah dekat. Terlebih sang menantu dan putrinya baru menikah 8 bulan lalu. Warga tersebut sedih karena saat menantunya berangkat, hujan lebat mengguyur.

Menurutnya, sang menantu pergi hanya membawa pakaian serta sejumlah uang. Beruntung, menantunya tidak menjual harta benda seperti warga lain. Aktivitas semua jemaah Thoriqoh Muso atau puluhan warga yang diduga terpapar doktrin kiamat sama seperti masyarakat pada umumnya. Warga sering belajar agama bersama. Bahkan ada bangunan musala dan gazebo untuk belajar agama. Para jemaah melakukan selawatan dan zikir tiap malam Rabu dan malam Sabtu. Selain itu, para jamaah beribadah seperti biasa. Tidak ada yang berbeda. Sikap antar warga pun baik, tidak ada yang berbeda antara jemaah dan bukan, tapi jemaahnya sampai ke luar kampung juga.

Sebelumnya diberitakan, 52 warga Ponorogo berpindah ke Malang setelah mendapatkan pemahaman mengenai isu kiamat, perang dan kemarau panjang yang akan melanda. Mereka rela menjual aset berharga demi berlindung di sebuah pesantren di Kabupaten Malang. Puluhan warga Ponorogo pindah ke Malang setelah mendengar doktrin kiamat sudah dekat. Mereka menuju sebuah pondok pesantren di Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.

Kepindahan 52 warga warga Dukuh Krajan, Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo ke Malang terjadi dalam satu bulan secara bertahap. Terakhir pada Kamis, 7 Februari 2019. Mereka dikabarkan mengikuti Jemaah Thoriqoh Muso dari ponpes yang ada di Malang itu. Pada awalnya mereka dipengaruhi atau diajak oleh Katimun (48), warga RT 05 RW 01 Dukuh Rrajan, Desa Watubonang yang merupakan jemaah santri di sana.

Katimun mempengaruhi warga dengan banyak doktrin. Seperti tentang kiamat sudah dekat, soal perang hingga kemarau panjang. Terkait kiamat, warga diminta pergi dan menjual semua aset di Desa Watubonang. Sementara soal Ramadhan tahun ini yang akan diwarnai huru-hara, jemaah diminta membeli pedang seharga Rp 1 juta.

Baca Juga: 3 Terduga Teroris di Sibolga Ditangkap Tim Densus 88 Antiteror

Jemaah yang tidak membeli pedang diharuskan menyiapkan senjata di rumah, sehingga meresahkan masyarakat sekitar. Kemudian jemaah berlindung di pondok. Yang terakhir soal kemarau panjang selama 3 tahun mulai 2019-2021. Jemaah diminta menyetor gabah 500 kg per orang karena kemarau mengakibatkan paceklik. (Fan/Tyd)

Share.

Tentang Penulis

Penulis yang saat ini bekerja paruh waktu sebagai freelance copywriter. Berpengalaman dalam menulis, karena memang sudah hobi. Kelahiran Jakarta, yang memiliki favourite quote "Do what you love and Love what you do." Happy writing!

Leave A Reply