Wajah Asli Evi ‘Kelewat Cantik’ Jadi Senator dari NTB Dengan Suara Terbanyak

0
W CumaBerita.com, Jakarta. Dalam Pemilu 2019 ini, calon anggota DPD dari NTB diikuti 47 orang. Berdasarkan keputusan KPU NTB. KPU Nusa Tenggara Barat (NTB) memutuskan Evi Apita Maya meraih suara terbanyak untuk kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari NTB.

Evi menumbangkan Wakil Ketua DPD Prof Dr Farouk Muhammad sehingga gagal ke Senayan. Mendapati kekalahannya itu, Farouk tidak terima dan menggugat Keputusan KPU itu ke Mahkamah Konstitusi (MK). Menurutnya, kemenangan Evi karena pengaruh foto baliho dan foto di kertas suara yang telah diedit ‘kelewat cantik’ sehingga pemilih terkecoh. Dalam pelanggaran administrasi ini dilakukan satu tindakan berlaku tidak jujur bahwa calon anggota DPD RI dengan nomor urut 26 atas nama Evi Apita Maya diduga telah melakukan manipulasi atau melakukan pengeditan terhadap pasfoto di luar batas kewajaran. Ini akan dibuktikan dengan keterangan ahli. Dalam gugatannya itu, Farouk meminta MK mencoret kemenangan Evi serta Lalu Suhaimi sehingga ia masuk 4 besar dan bisa kembali duduk di Senayan.

Menetapkan perolehan suara Pemohon atas nama Prof. Farouk Muhammad dengan Nomor Urut 27 dengan perolehan suara sejumlah 188.687 sebagai peringkat ke 3 perolehan suara Calon Anggota DPD-RI pada Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Barat.

Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan caleg DPD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Farouk Muhammad atas Evi Epita Maya. Gugatan ini diajukan terkait editan foto ‘kelewat cantik’ yang dilakukan Evi. Gugatan ini terdaftar dalam nomor 03-18/PHPU-DPD/XVII/2019 PHP Umum DPD Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Dalam gugatannya, Farouk menyebut Evi telah melakukan pengeditan foto yang digunakan dalam surat suara dan alat peraga kampanye. Farouk menyebut editan foto ‘kelewat cantik’ itu dianggap menyalahi prinsip kejujuran dalam pemilu. Selain itu, disebutkan foto yang dipakai Evi membuatnya mendapat suara terbanyak di NTB.

Dalam pertimbangannya, Mahkamah berpendapat bahwa dalil pelanggaran yang ajukan Farouk merupakan pelanggaran administratif yang dilaporkan kepada Bawaslu. Namun Bawaslu disebut tidak menerima adanya laporan pelanggaran. Mahkamah menyebut Bawaslu baru menerima laporan dugaan pelanggaran setelah hasil perolehan suara dikeluarkan.

Baca Juga: BEARCOFEST 2019 Digelar 25 Agustus, Buat Pecinta BMX!

Tak hanya itu, terbukti sebelumnya, seluruh pihak atau peserta pemilu tidak mempermasalahkan foto yang digunakan. Hal ini dibuktikan dengan adanya paraf masing-masing pihak saat melakukan pengecekan contoh surat suara sebelum pencetakan. (Fan/Tyd)

Share.

Tentang Penulis

Penulis yang saat ini bekerja paruh waktu sebagai freelance copywriter. Berpengalaman dalam menulis, karena memang sudah hobi. Kelahiran Jakarta, yang memiliki favourite quote "Do what you love and Love what you do." Happy writing!

Leave A Reply