Penyebab Kasus Corona Masih Sangat Tinggi di Jatim

0
P CumaBerita.com, Jakarta. Target Presiden Joko Widodo agar Jatim segera mengendalikan persebaran kasus selama dua pekan pun tak tercapai. Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur Achmad C. Romdhoni mengungkapkan sejumlah kendala yang menyebabkan kasus virus corona di Jawa Timur masih tinggi.

Berdasarkan data 10 Juli 2020, jumlah kasus corona di Jatim mencapai 15.484 kasus. Tertinggi tingkat nasional. Permasalahan di hulu yang dia maksud adalah banyak warga yang tidak patuh dengan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Menurutnya, tak sedikit warga Jatim yang tak khawatir dengan persebaran virus corona. Cara pandang masyarakat terhadap Covid harus dibetulkan. Kalau visi tidak sama akan sulit mengarahkan program dapat berjalan dengan baik. Presiden mengarahkan tapi kalau visi tidak sama, sulit. Ketidakpatuhan warga, pernah ditemui Achmad dari sejumlah warga di kawasan Ampel, Surabaya. Mayoritas warga tak menggunakan masker. Itu hanya contoh di salah satu kawasan.

Kendala lain, fasilitas alat tes polymerase chain reaction (PCR) yang minim dan mahal. Belum semua rumah sakit di Jatim memiliki fasilitas alat PCR. Selain itu, waktu tunggu hasil tes juga cukup lama. Akibatnya, penentuan kasus positif atau negatif menjadi terlambat. Perlu penegakan diagnosis yang cepat. Salah satunya melalui Tes Cepat Molekuler (TCM) dan memperbesar kapasitas PCR. Idealnya, pengetesan dilakukan dengan jumlah 3.500 per 1 juta penduduk.

Sementara jumlah pengetesan saat ini rata-rata masih di angka 2.000. Kendala lain adalah kekurangan ventilator dan tenaga yang terlatih mengoperasikan. Persoalan yang dihadapi ibu hamil. Di Surabaya tercatat ada 3.500 ibu hamil dan hampir 10 persen dari jumlah tersebut terpapar corona. Saat ini yang dilakukan RS terhadap penapisan bumil hanya pakai rapid.

Baca Juga: Mengenal Perbedaan Full Remote Work Dan Work From Home

Padahal rapid tidak berguna kata WHO. RS bersalin khusus Covid perlu dipikirkan. Kendala selanjutnya adalah masih ada stigma pada tenaga kesehatan. Umumnya, para tenaga kesehatan mendapat penolakan di tempat tinggal hingga dari keluarga pasien. Stigma pada rumah sakit yang dituduh memanfaatkan lahan bisnis dalam penanganan corona. (Fan/Tyd)

Share.

Tentang Penulis

Penulis yang saat ini bekerja paruh waktu sebagai freelance copywriter. Berpengalaman dalam menulis, karena memang sudah hobi. Kelahiran Jakarta, yang memiliki favourite quote "Do what you love and Love what you do." Happy writing!

Leave A Reply