Perusahaan Sukanto Tanoto Melatih Para Siswa Tentang Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan

0
P– Kelapa sawit merupakan salah satu industri yang ditekuni oleh Royal Golden Eagle (RGE). Melalui bidang ini, perusahaan yang didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto itu hendak menyebarkan kesadaran perkebunan berkelanjutan ke masyarakat. RGE didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto pada 1967. Mereka memiliki salah satu anak perusahaan yang bergerak di sektor kelapa sawit, yakni Asian Agri. Berdiri pada 1993, Asian Agri kini menjadi salah satu produsen crude palm oil terbesar di Asia. Setiap tahun, mereka mampu memproduksi minyak kelapa sawit hingga satu juta ton.

Dalam operasional, Asian Agri memegang teguh prinsip-prinsip berkelanjutan. Dalam mengelola perkebunan seluas 160 ribu hektare yang dimiliki, mereka menjalankannya dengan sejumlah langkah yang bersahabat terhadap alam. Ini tidak hanya dilakukan di internal perusahaan. Perusahaan Sukanto Tanoto ini juga mewajibkan para mitranya seperti petani plasma dan petani swadaya melakukan hal serupa. Tanpa itu, petani tidak akan mendapat dukungan dan hasil perkebunannya tidak bakal diterima.

Selain kepada petani, Asian Agri memperluas jangkauan penyadaran tentang kepedulian alam kepada masyarakat. Secara khusus, mereka melakukannya dengan memperkenalkan proses pertanian kelapa sawit berkelanjutan kepada para siswa sekolah.

Perusahaan Sukanto Tanoto ini melakukannya dengan meluncurkan program Sekolah Sawit Lestari. Ini adalah kegiatan yang bertujuan mendukung proses belajar-mengajar di tingkat SD, SMP dan SMA tentang pengelolaan kelapa sawit. Materinya dihimpun dalam muatan lokal tentang pemanfaatan lahan sekolah untuk menghasilkan manfaat bagi warga sekolah serta lingkungan sekolah.

Oleh Asian Agri, program Sekolah Sawit Lestari dijadikan kegiatan pendamping sekolah bagi para siswa SD, SMP dan SMA yang memiliki lahan dan memenuhi syarat untuk pengembangan potensinya. Nanti program ini dijalankan untuk memberi nilai manfaat dan memperkuat kesadaran akan lingkungan yang lestari bagi siswa, guru dan seluruh warga sekolah.

Perusahaan Sukanto Tanoto itu memulai Sekolah Sawit Lestari sejak Oktober 2016. Pertama kali mereka meluncurkannya di SMA Negeri 11, Desa Terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten Batanghari, Jambi. Setelah itu, Asian Agri mulai memperluas jangkauan ke sejumlah sekolah lain di wilayah Jambi. Bahkan, akhirnya, kegiatan ini juga meluas hingga Provinsi Riau dan Sumatra Utara.

“Program ini bertujuan untuk membuka wawasan siswa terhadap industri kelapa sawit mulai dari pengelolaan perkebunan termasuk dasar-dasar pengetahuan di lapangan, implementasi/ praktik terbaik dengan panduan dari Asian Agri sebagai perusahaan pendamping,” kata Head of Sustainability Operation & CSR Asian Agri, Welly Pardede. Untuk bisa menjalankannya, sekolah diharuskan memiliki lahan yang dapat dipakai untuk praktik menanam kelapa sawit. Jika tidak ada, lahan dari pemerintah desa juga dapat dimanfaatkan untuk berkebun.

Nanti, dalam mengajarkan materi, Asian Agri akan menurunkan tim ahli ke sekolah-sekolah secara langsung. Namun, proses pembelajaran tidak akan banyak dilakukan di dalam kelas. Siswa lebih sering praktik di perkebunan.

Sekolah Sawit Lestari menjadi program jangka panjang bagi Asian Agri. Selama program berlangsung, perusahaan Sukanto Tanoto itu akan mendampingi pihak sekolah dan bersama-sama menyusun materi pembelajaran tentang sawit berkelanjutan, termasuk kegiatan praktik berupa kunjungan lapangan, diskusi interaktif serta pemantauan berkala tanaman sawit yang ditanam warga sekolah.

“Pendampingan dan belajar langsung di lokasi penanaman kelapa sawit akan mempermudah murid memahami praktik terbaik pengelolaan kelapa sawit dan memperkuat kesadaran menjaga kelestarian lingkungan mulai dari tingkat sekolah,” Head Regional Office Asian Agri, Sahrul Hasibuan.

Adapun hasil yang diperoleh tidak akan diambil oleh perusahaan Sukanto Tanoto tersebut. Hasilnya bisa dimanfaatkan oleh pihak sekolah untuk kepentingannya sendiri.

“Kami memanfaatkan lahan pasif untuk menghasilkan produk bernilai ekonomis, yang dapat dijual dan digunakan hasilnya bagi kepentingan/kegiatan siswa/sekolah yang sejalan dengan program Manajemen Berbasis Sekolah,” ujar Sahrul.

MENGAJAK PEDULI LINGKUNGAN

MENGAJAK PEDULI LINGKUNGAN

Source: Kompas.com

Sekolah Sawit Lestari dirasa sangat berguna bagi para siswa sekolah di Riau, Jambi, dan Sumatra Utara. Pasalnya, kelapa sawit dirasa dekat dengan keseharian para siswa. Perkebunannya ada di sekitar rumah mereka. Bahkan, tidak sedikit pula yang memiliki orang tua yang bekerja mengelola kebun kelapa sawit.

Ini yang menjadi salah satu alasan lain bagi Asian Agri dalam menggulirkan program Sekolah Sawit Lestari. Perusahaan Sukanto Tanoto itu ingin mengenalkan semangat kepedulian lingkungan dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh para siswa. Sebab, dalam mengelola perkebunan kelapa sawit, mereka menekankan terhadap keberlanjutan.

“Program Sekolah Sawit Lestari di Sumatra Utara merupakan bagian dari komitmen Asian Agri dalam mendukung pengelolaan kelapa sawit nasional berkelanjutan. Kami memulai dengan mengedukasi masyarakat khususnya para generasi muda untuk mulai mengenal dan memahami bagaimana cara mengelola kelapa sawit yang baik dan berwawasan lingkungan,” ujar Welly.
Sementara itu, pihak sekolah dan siswa yang mendapat materi merasakan dampak positif dari Sekolah Sawit Lestari. Muatan lokal di sekolah ini dianggap bersifat praktis dan bermanfaat bagi kehidupan nyata.

“Kebanyakan siswa juga berasal dari keluarga petani, jadi pelajaran ini juga bisa bermanfaat bagi masyarakat,” kata Kepala Sekolah SMK Negeri I Pangkalan Kerinci, Nuraisa, yang ikut melaksanakan Sekolah Sawit Lestari di tempatnya itu.

Pendapat senada dilontarkan oleh siswa. M. Lukman siswa kelas XII jurusan perkebunan mengaku mata pelajaran perkebunan sawit sangat menarik. “Dengan adanya mata pelajaran ini, saya bisa menerapkan ilmu yang saya dapatkan di dunia kerja,” ujarnya.

Asian Agri memang berharap para siswa paham pengelolaan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan. Dengan itu, mereka sudah memiliki dasar ketika memutuskan terjun ke dunia perkebunan.

Selain itu, perusahaan Sukanto Tanoto tersebut juga berharap banyak kepada para siswa. Mereka didorong untuk membagikan pengelolaan perkebunan berkelanjutan dan kesadaran terhadap perlindungan alam kepada orang tua dan masyarakat di sekitar area tempat tinggalnya.

Pengharapan yang sama juga dilontarkan oleh pihak pemerintah. Mereka mengapresiasi upaya dari Asian Agri untuk mengenalkan cara berkebun kelapa sawit yang baik kepada para siswa. Salah satu dinyatakan oleh Wakil Bupati Labuhan Batu Selatan Kholil Jufri Harahap. Ia mendukung program tersebut karena kelapa sawit merupakan potensi besar di wilayahnya.

“Peran dari Sekolah Sawit Lestari kami harapkan dapat memberikan ilmu dan pengetahuan lebih kepada masyarakat khususnya para generasi muda untuk mampu mengelola komoditas ini dengan baik,” kata Kholil di Bisnis.com.

Kelapa sawit memang tidak bisa diremehkan. Kontribusi industri ini terhadap perekonomian nasional sangat besar. Berdasarkan data di Kumparan.com, pada tahun 2017, Indonesia mengekspor 31 juta ton kelapa sawit dan berhasil mendulang devisa hampir 23 miliar dolar Amerika Serikat. Jumlah ini mencapai 13% dari nilai keseluruhan ekspor Indonesia. Melihat sumbangan kelapa sawit yang besar terhadap bangsa, Asian Agri tidak ragu menularkan kemampuan pengelolaan yang baik kepada generasi muda. Perusahaan Sukanto Tanoto ini akhirnya memilih Sekolah Sawit Lestari sebagai jalannya.

Share.

Tentang Penulis

Penulis yang saat ini bekerja paruh waktu sebagai freelance copywriter. Berpengalaman dalam menulis, karena memang sudah hobi. Kelahiran Jakarta, yang memiliki favourite quote "Do what you love and Love what you do." Happy writing!

Leave A Reply