Fakta Dibalik Investasi di Koin Rp1.000 Bergambar Sawit

0
F CumaBerita.com, Jakarta. Sebetulnya tak ada alasan jelas yang menjustifikasikan harga penjualan uang koin pecahan Rp1.000 hingga bisa dikabarkan dihargai Rp100 juta. Karena itulah disarankan masyarakat berhati-hati dan tak ikut-ikutan mengoleksi jika tak mau buntung.

Akhir-akhir ini warga net digegerkan dengan kabar penjualan koin pecahan Rp1.000 bergambar kelapa sawit seharga Rp100 juta di sejumlah marketplace. Koin keluaran BI pada 1996 itu menyulut perdebatan panjang dari soal harga pantas hingga potensi investasi. Untuk uang koin bergambar kelapa sawit yang baru berusia 24 tahun, sangat tidak masuk akal jika memiliki nilai jual selangit. Apalagi bila dilihat jumlahnya yang relatif masih banyak di pasaran. Meski koin berukuran 26 milimeter (mm) dengan tebal 2 mm dan berat 8,6 gram ini sudah tidak dicetak BI lagi, namun bukan berarti nilainya bisa langsung melejit hingga jutaan kali lipat. Harga tertinggi yang pantas untuk koin itu adalah Rp1 juta. Itupun, sudah terbilang fantastis. Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning mengatakan tak semua barang bisa dikategorikan sebagai barang antik dan dijadikan instrumen investasi. Ada beberapa faktor yang membuat suatu benda dapat dijadikan aset investasi.

Yang paling mendasar, benda tersebut harus memiliki harga yang disepakati oleh pasar luas. Dalam kasus koin Rp1.000 ini dinilai pasar masih belum memiliki kesepakatan harga yang bisa menjadikan koleksi uang logam ini sebagai pilihan investasi yang tepat. Risikonya membeli di harga Rp100 juta juga mengerikan. Banyak yang meragukan akan ada pihak lain yang mau membeli koin Rp1.000 tersebut dengan harga yang lebih tinggi.

Otomatis, potensi untung (return) koleksi pun sangat minim sebab tak ada standar ukurnya. Dalam berinvestasi, risikonya harus bisa diukur. Contohnya, investasi saham di pasar modal yang jelas harga jual dan belinya dan nilai saham tersebut di masyarakat. Selain itu, kolektor atau investor harus memiliki ilmu atau pemahaman yang mendalam akan benda tersebut. Lusy mencontohnya jual-beli lukisan mahal yang memiliki nilai seni yang hanya dipahami oleh segelintir orang saja.

Baca Juga: Fantastis! Avanza 2015 Didiskon Jadi Rp 60 Juta

Jika kolektor/investor tak benar-benar paham dengan alasan di balik dibanderolnya uang koin hingga Rp100 juta, untuk berpikir dua kali menghabiskan uang dalam jumlah fantastis untuk barang yang belum diketahui nilai aslinya. Selain itu, harus ada tujuan keuangan yang mendasari keputusan. Misalnya target waktu pencapaian hingga barang yang dibeli dapat menghasilkan keuntungan. (Fan/Tyd)

Share.

Tentang Penulis

Penulis yang saat ini bekerja paruh waktu sebagai freelance copywriter. Berpengalaman dalam menulis, karena memang sudah hobi. Kelahiran Jakarta, yang memiliki favourite quote "Do what you love and Love what you do." Happy writing!

Leave A Reply