Sulli Bunuh Diri dan Isu Tabu Kesehatan Mental Industri Kpop

0
S CumaBerita.com, Jakarta. Cyber Bullying menjadi salah satu ‘tragedi’ memilukan yang sangat nyata terjadi. Beberapa hari lalu, salah satu idola ternama Korea Selatan yaitu Sulli juga menjadi salah satu korban keganasan komentar buruk yang beberapa tahun terakhir menimpa dirinya tanpa henti.

Belajar dari kejadian ini, seharusnya kita semua lebih aware terhadap cyber bullying, karena masih banyak yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang sepele karena tidak ada kontak secara fisik yang menyakiti korban. Kematian penyanyi sekaligus aktris asal Korea Selatan, Choi Jin-ri atau yang lebih dikenal dengan nama Sulli, merupakan hal yang cukup menggemparkan. Sebab Sulli dikabarkan tewas bunuh diri di kediamannya di kawasan Seongnam, Provinsi Gyeonggi, Seoul selatan, Senin 14 Oktober 2019 pukul 15:21 waktu setempat. Sulli dikabarkan menderita sindrom popularitas ekstrem, gangguan panik dan juga fobia sosial. Hal itu ia paparkan dalam salah satu program acara ‘Truth Store’ pada Oktober ini.

Semasa hidupnya, Sulli merupakan selebritis yang terkenal blak-blakan dalam bersuara. Sulli memiliki pandangan sendiri tentang politik, hak-hak perempuan, dan seksualitas. Bagi masyarakat Korea Selatan yang sangat konservatif, Sulli cukup ‘kontroversi’. Contohnya Sulli pendapat bahwa ia tidak senang menggunakan bra, sebab menyesakkan untuknya. Sulli juga memposting foto dengan pacarnya secara publik, sehingga menggerakkan komunitas warganet yang terkenal keras di negara ginseng tersebut.

Kecenderungannya pada kontroversi mendapatkan tempat. Sulli bergabung dengan variety show ‘The Night of Hate Comments’ sebagai pembawa acara termuda dan paling blak-blakan. Sulli tentu membuat para bintang tamu selebritis untuk merespons dan bereaksi terhadap komentar haters mereka. Sayangnya, tidak hanya Sulli yang meninggal karena memiliki penyakit mental.

Sebut saja salah satu rekan Sulli di agensi SM Entertainment, Kim Jong-Hyun yang dikabarkan mengidap gangguan jiwa depresi atau Major depressive disorder (MDD). Masalah mereka yang bunuh diri berakar pada satu hal, yaitu tuntutan pekerjaan. Sayangnya di Korea Selatan sendiri, isu kesehatan mental sendiri tidak begitu diperhatikan. Stigma yang hadir di Korea juga tidak berpihak kepada warganya yang memiliki kesehatan mental.

Baca Juga: Tips Pilih Mobil Bekas atau Baru

Bahkan mereka pergi terapi sering membayar secara tunai untuk menghindari catatan asuransi yang menunjukkan dirinya memiliki masalah mental. Stigma ini tentu sangat menghambat kemampuan mereka untuk pulih dari penyakit mental dan berintegrasi kembali ke masyarakat. (Fan/Tyd)

Share.

Tentang Penulis

Penulis yang saat ini bekerja paruh waktu sebagai freelance copywriter. Berpengalaman dalam menulis, karena memang sudah hobi. Kelahiran Jakarta, yang memiliki favourite quote "Do what you love and Love what you do." Happy writing!

Leave A Reply